Pelaksanaan Program Kerja KENTONGAN Kreasi Konten Toko Nongan Episode 2: Dodol Pulau Mas

28 Juli 2026
Iqmal Beri Wiguna
Dibaca 3 Kali
Pelaksanaan Program Kerja KENTONGAN Kreasi Konten Toko Nongan Episode 2: Dodol Pulau Mas

Pada hari Selasa, 28 Juli 2026, mahasiswa KKN-PPM Universitas Udayana kembali melanjutkan pelaksanaan program kerja KENTONGAN (Kreasi Konten Toko Nongan) Episode 2. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.00 WITA hingga 11.00 WITA, berlokasi di tempat produksi usaha dodol tradisional "Pulau Mas" milik Ibu Nengah Sudiarti di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Pada episode kedua ini, tim KKN berfokus untuk mengangkat potensi kuliner khas warisan keluarga, yaitu Dodol Pulau Mas beserta produk olahan pendampingnya.

Usaha Dodol Pulau Mas merupakan bisnis warisan keluarga yang diwarisi Ibu Nengah Sudiarti dari mertuanya. Dahulu, sentra industri dodol tradisional cukup banyak dijumpai di wilayah sekitar, namun saat ini sebagian besar pengrajin telah berhenti akibat generasi tua yang pensiun dan kurangnya minat generasi muda karena proses pengerjaannya yang tergolong berat. Kendati demikian, Ibu Nengah Sudiarti tetap konsisten memproduksi dodol alami tanpa bahan pengawet ini guna menjaga warisan resep keluarga serta menopang perekonomian rumah tangga.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN melakukan wawancara mendalam serta observasi langsung terhadap proses pembuatan produk. Pembuatan dodol tradisional ini menggunakan bahan baku utama berupa tepung ketan (ketan putih dan hitam), gula bali, santan, serta parutan kelapa. Proses pengerjaannya terbilang sangat menguras tenaga, di mana adonan harus diaduk terus-menerus di atas tungku dengan kontrol api yang stabil selama 1,5 hingga 2 jam lebih agar tidak gosong. Selain dodol, Ibu Nengah Sudiarti juga memproduksi olahan lain yaitu kacang pedas manis sebagai variasi produk unggulan dari Pulau Mas. Dalam sekali produksi dodol skala besar, adonan dapat menghasilkan sekitar 100 kotak, sedangkan adonan sedang menghasilkan sekitar 50 kotak, dengan kemasan praktis berisi 6 biji per kotak.

Selain mendokumentasikan proses produksi, kegiatan ini juga memetakan berbagai tantangan yang dihadapi oleh usaha Dodol Pulau Mas. Beberapa kendala utama di antaranya adalah kenaikan harga bahan baku seperti kacang tanah (yang mencapai Rp38.000/kg untuk olahan kacang pedas manis), tepung ketan, dan gula bali, serta persaingan dengan jajanan modern. Penjualan dodol ini juga bersifat musiman, di mana permintaan melonjak tinggi pada hari raya seperti Galungan, namun cenderung menurun pada hari biasa. Faktor omset yang fluktuatif ini membuat pemilik belum berani menambah tenaga kerja luar dan memilih mengandalkan bantuan keluarga.

Sebagai langkah konkret dari program KENTONGAN Episode 2, mahasiswa KKN memproduksi materi promosi digital berupa dokumentasi foto dan video kreatif proses pembuatan dodol dan olahan kacang untuk media sosial. Tim KKN juga menyiapkan pamflet, foto sampul, serta sinopsis sentra produksi untuk membantu memperluas jangkauan pemasaran usaha Dodol Pulau Mas, yang selama ini didistribusikan ke wilayah Klungkung, Gianyar, hingga Sading (Badung). Melalui kegiatan ini, diharapkan keberadaan Dodol Pulau Mas semakin dikenal masyarakat luas serta mampu menjaga keberlanjutan kuliner tradisional khas Desa Nongan.

Pada hari Selasa, 28 Juli 2026, mahasiswa KKN-PPM Universitas Udayana kembali melanjutkan pelaksanaan program kerja KENTONGAN (Kreasi Konten Toko Nongan) Episode 2. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.00 WITA hingga 11.00 WITA, berlokasi di tempat produksi usaha dodol tradisional "Pulau Mas" milik Ibu Nengah Sudiarti di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Pada episode kedua ini, tim KKN berfokus untuk mengangkat potensi kuliner khas warisan keluarga, yaitu Dodol Pulau Mas beserta produk olahan pendampingnya.

Usaha Dodol Pulau Mas merupakan bisnis warisan keluarga yang diwarisi Ibu Nengah Sudiarti dari mertuanya. Dahulu, sentra industri dodol tradisional cukup banyak dijumpai di wilayah sekitar, namun saat ini sebagian besar pengrajin telah berhenti akibat generasi tua yang pensiun dan kurangnya minat generasi muda karena proses pengerjaannya yang tergolong berat. Kendati demikian, Ibu Nengah Sudiarti tetap konsisten memproduksi dodol alami tanpa bahan pengawet ini guna menjaga warisan resep keluarga serta menopang perekonomian rumah tangga.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN melakukan wawancara mendalam serta observasi langsung terhadap proses pembuatan produk. Pembuatan dodol tradisional ini menggunakan bahan baku utama berupa tepung ketan (ketan putih dan hitam), gula bali, santan, serta parutan kelapa. Proses pengerjaannya terbilang sangat menguras tenaga, di mana adonan harus diaduk terus-menerus di atas tungku dengan kontrol api yang stabil selama 1,5 hingga 2 jam lebih agar tidak gosong. Selain dodol, Ibu Nengah Sudiarti juga memproduksi olahan lain yaitu kacang pedas manis sebagai variasi produk unggulan dari Pulau Mas. Dalam sekali produksi dodol skala besar, adonan dapat menghasilkan sekitar 100 kotak, sedangkan adonan sedang menghasilkan sekitar 50 kotak, dengan kemasan praktis berisi 6 biji per kotak.

Selain mendokumentasikan proses produksi, kegiatan ini juga memetakan berbagai tantangan yang dihadapi oleh usaha Dodol Pulau Mas. Beberapa kendala utama di antaranya adalah kenaikan harga bahan baku seperti kacang tanah (yang mencapai Rp38.000/kg untuk olahan kacang pedas manis), tepung ketan, dan gula bali, serta persaingan dengan jajanan modern. Penjualan dodol ini juga bersifat musiman, di mana permintaan melonjak tinggi pada hari raya seperti Galungan, namun cenderung menurun pada hari biasa. Faktor omset yang fluktuatif ini membuat pemilik belum berani menambah tenaga kerja luar dan memilih mengandalkan bantuan keluarga.

Sebagai langkah konkret dari program KENTONGAN Episode 2, mahasiswa KKN memproduksi materi promosi digital berupa dokumentasi foto dan video kreatif proses pembuatan dodol dan olahan kacang untuk media sosial. Tim KKN juga menyiapkan pamflet, foto sampul, serta sinopsis sentra produksi untuk membantu memperluas jangkauan pemasaran usaha Dodol Pulau Mas, yang selama ini didistribusikan ke wilayah Klungkung, Gianyar, hingga Sading (Badung). Melalui kegiatan ini, diharapkan keberadaan Dodol Pulau Mas semakin dikenal masyarakat luas serta mampu menjaga keberlanjutan kuliner tradisional khas Desa Nongan.